top of page

                                                              PENGANTAR

 

SATU DUA PERKARA yang perlu saya sebutkan di sini sebagai kata pengantar.

 

Pertama sekali saya dengan ini terpaksa menyerukan “AWAS” terhadap beberapa orang yang menyamar sebagai Tan Malaka. Seorang di antara penyamar itu sudah saya jumpai di Surabaya. Menurut keterangan teman seperjuangan di sana si Penyamar ini mempunyai beribu-ribu pengikut. Menurut pengakuan si Penyamar sendiri, dia sudah lama bekerja buat Pemerintah Belanda almarhum. Berhubung dengan itu dia sudah banyak mempunyai hubungan dengan orang yang mempunyai kedudukan tinggi di bawah Belanda di antara Pangreh Praja dll. Apalagi dengan mereka dari kalangan pergerakan di berbagai tempat yang tertipu mentah- mentah.

 

Tak perlu disebutkan lagi bahwa Tan Malaka palsu banyak menimbulkan kekalutan di kalangan pergerakan revolusioner umumnya dan pergerakan komunis khususnya. Tiadalah susah menghubungkan aksi Tan Malaka Palsu ini dengan provokasi yang lazim dilakukan terhadap pengikut PARI di zaman Belanda terutama sejak tahun 1935-1936. Provokasi itu amat bermaharajalela dan banyak mengirimkan orang PARI ke Digul. Ini malam orang PARI didatangi oleh seorang provokator, besoknya orang itu diDigulkan. Selain daripada itu Tan Malaka Palsu “made in Batavia” (Vrijmetslaarweg) itu berhasil pula melekatkan sangkaan yang tidak- tidak terhadap Tan Malaka yang sebenarnya, berhubung dengan keributan pada tahun 1926 dan pergerakan rakyat di belakangnya.

 

Semua sangkaan itu satupun tak bisa dikupas dengan tiada mengupas yang berhubungan dengan aksi dan organisasi komunis di mana-mana negara. Persangkaan itu tiada akan saya kupas! Muka saya cukup tebal buat melunturkan persangkaan palsu. Hati saya sebagai revolusioner tak bisa digoncangkan oleh tuduhan palsu. Sejarah hampir belum pernah mungkir mengakui kebenaran!

 

Dalam hal Tan Malaka Palsu yang sudah dijumpai ini bolehlah dikata saya beruntung juga. Sekiranya Penyamar ini berjalan terus, maka akan teruslah ia membohongi para pemimpin. Di antaranya yang sudah kena dibohongi banyak pula yang terkemuka. Tak mengherankan, karena mereka masih “bayi” ketika saya meninggalkan Indonesia bulan Maret tahun 1922. Untunglah beberapa pemimpin muda bisa saya jumpai di Surabaya dan lain-lain tempat dan dengan mudah saya buktikan kesilapan mereka. Alangkah kalutnya pergerakan Indonesia seandainya saya tak menyaksikan peristiwa ini. Sudahlah tentu susah akan menyaring sejarah saya yang sebenarnya, apalagi kalau lebih mendalam.

 

Sebetulnya sudah amat dalam. Sudah lebih dari cukup buat melemparkan saya ke neraka para pengkhianat. Pembaca tentu tak heran kalau saya terkejut mendengarkan banyak orang bercerita pada saya bahwa Pemimpin Besar ini atau itu ketika Jepang masuk menerima “perintah” dari saya buat “bekerja bersama dengan Jepang”. Siapa yang sangsi akan adanya pemberi perintah itu, yakni saya Tan Malaka, dibawa ke Sukabumi, atau Madiun atau Cirebon atau ke lain tempat buat dijumpakan dengan Tan Malaka Palsu.

Jepang piawai dalam politik “double crossing” (menipu kedua pihak) sebagai warisan dari Belanda. Tan Malaka Palsu dipakai oleh Belanda buat memikat dan melenyapkan Tan Malaka tulen. Jepang menjalankan politik semacam itu pula. Dengan lenyapnya pemerintah serdadu Jepang, rupanya pekerjaan pemalsuan politik itu diteruskan pula oleh para murid Jepang, ialah buat mencari pengaruh dan pangkat.

Siapakah yang rugi, siapakah yang beruntung sampai sekarang, Tan Malaka atau musuhnya?

 

Siapakah yang akan rugi dan akan beruntung di hari depan?

Kenapakah Tan Malaka yang dipakai buat merusak partainya Tan Malaka?

Tetapi tuan-tuan yang arifin tentu juga bisa menjawabnya.

Saudara yang masih memihak kepada kebenaran saya persilahkan membaca brosur saya Naar de Republik Indonesia tahun 1924 dan Semangat Muda serta Massa Aksi in Indonesia. Semangat Muda ditulis di Manila dan dicetak di Manila, sebelum keributan permulaan tahun 1926. Massa Aksi ditulis dan dicetak di Singapura sebelum keributan tahun 1926 pula. Maksud buku itu ialah buat menjelaskan cara partai komunis mengadakan organisasi, menyaring pengikutnya, dan menjalankan aksi yang cocok dengan paham massa-aksi, yang bertentangan dengan cara aksi militer sematamata. Saya yang bertanggung jawab atas pergerakan komunis di Indonesia dan bagian lain di Asia di masa itu merasa wajib menjaga supaya Partai Komunis jangan tergelincir disebabkan provokasi, supaya Partai Komunis Indonesia khususnya terus berjalan di atas rel massa-aksi.

 

Tulen palsunya seorang pemimpin tiadalah bisa diukur dengan tuduhan orang lain terhadap dirinya semata-mata. Palsu tulennya itu bisa juga diukur dengan perkataan dirinya itu sendiri dahulu dan sekarang. Palsu tulennya itu juga bisa diukur dengan seberapa cocoknya perkataan si Pemimpin dengan perbuatannya sendiri. Kalau di sini didapat perbedaan atau pertentangan, maka barulah tuduhan itu mendapatkan bukti yang sah.

Saya tak akan naik perahu bermingu-minggu lamanya diombang- ambingkan gelombang menuju ke Sumatera dan Jawa, satu dua bulan sesudah Jepang masuk, kalau saya takut memimpin pergerakan revolusioner yang sebenarnya. Tak perlu saya sembunyi bekerja sebagai buruh di Bayah Kozan sampai Jepang lenyap, kalau saya percaya pada lain kemungkinan selain “Massa Aksi” di Indonesia. Saya percaya bahwa saya sekurangnya mesti dapat memasuki Gedung seperti Chuo Sangi In dan mendapat gedung besar di bawah perlindungan Hinomaru, kalau saya mau “sehidup semati” dengan serdadu kempetai Jepang, yakni tak percaya akan timbulnya "Aksi Rakyat" yang sebenarnya. Aksi Murba yang meluap mendidih inilah yang saya tunggu-tunggu.

 

Massa-Aksilah yang saya kehendaki lebih kurang 18 tahun yang lalu. Massa-Aksi pulalah yang saya kehendaki sekarang! Ujian buat perkataan saya itu kalau mau diuji dengan paham, bolehlah dibandingkan dengan isi lima atau enam buku yang terpaksa saya keluarkan di masa ini. Terpaksa, karena Massa-Aksi itu saya rasa belum cukup juga dimengerti, pun sekarang! Memang sekarang sudah ada Aksi Massa, ialah aksinya massa (murba), tetapi belum lagi Massa-Aksi. Kalau perbuatanlah yang mesti dijadikan batu ujian itu pula, maka saya harap sejarah akan memberi penerangan cukup, kalau kelak sejarah itu sudah sampai waktunya bersuara!

 

Tegasnya, bandingkanlah dasar, suara, dan semangat tulisan saya kini dengan dasar, suara, dan semangat tulisan saya 24 tahun yang lalu.

Sedikit panjang saya menulis buat membatalkan bermacammacam sangkaan yang berhubung dengan haluan dan aksi saya di luar negeri, sebenarnya terpencil dari teman dan jauh dari negeri bertahun-tahun. Keadaan sekarang membutuhkan kejelasan, seberapa bisa sudah saya berikan. Kalau ada lagi di antara teman seperjuangan yang ingin tahu, kenapa belum juga saya memajukan diri, maka sekali lagi saya ulang apa yang saya sebut dalam brosur Politik: Cukup sebab maka Tan Malaka memilih tempat, tempat, dan teman buat menyaksikan dirinya sendiri ke depan mata rakyat Indonesia.

 

Puluhan tahun lebih dahulu saya majukan “garis” yang saya anggap harus ditempuh oleh Rakyat Indonesia dalam perjuangan sekarang dengan semua brosur ini. Apabila “garis” ini disetujui dan yang menyetujui ikhlas takluk kepada susunan dan disiplin organisasi itu, maka kalau masih “diperlukan” pimpinan dari saya sendiri, tentulah saya akan tampil ke muka dengan tiada menghitung-hitung korban yang perlu diberikan. Tetapi tiada akan kekurangan kepuasan hati saya kalau seandainya “garis” itu disetujui oleh mereka yang lebih muda dan sendiri mau melaksanakan “garis” itu dengan jujur, ikhlas, dan tetap tabah.

Tiga paham yang sekarang berjuang bahu-membahu: paham keislaman, kebangsaan, dan sosialistis. Semuanya pada tingkat merebut KEMERDEKAAN NASIONAL ini berhak buat diakui. Marilah kita berharap supaya ketiga paham itu bisa mengadakan persatuan yang teguh-tetap.

 

Tetapi tak bisa disingkirkan kemungkinan bahwa kelak sesudah Kemerdekaan Nasional tercapai, boleh jadi ketiga paham itu, yang dalam garis besarnya mewakili kelas tani, borjuis-tangan, dan proletar, bercekcokan satu sama lainnya. Berhubung dengan itu maka perlulah dicari “persamaan” sebagai semen yang mempersatukan batu tembok. Persamaan itu didapat pada persamaan keperluan. Persamaan keperluan itu saya kira didapat dalam satu Rencana Ekonomi yang Sosialistis.

 

Inilah maksud brosur ini, yakni membentangkan paham saya tentang Rencana Ekonomi yang sekarang bisa dan perlu dijalankan oleh semua golongan yang ada di Indonesia. Juga dibentangkan rencana ekonomi yang bisa dan perlu dijalankan sesudah kemerdekaan 100% tercapai. Tiadalah perlu dilupakan kritik atas Kapitalisme, atas Rencana Ekonomi Fasis dan Demokratis.

 

Mudah-mudahan brosur ini bisa menambah pengetahuan warga negara Republik Indonesia tentang ekonomi.

 

Surabaya, 28 November 1945

 

 

Pendakwa modern kita, DENMAS, MR. APAL, TOKE, PACUL, dan GODAM sekarang duduk di beranda sebuah rumah, sedang besarnya, dilindungi oleh pohon jeruk yang rindang. Suasana tenang meliputi lima-seperjuangan ini.

 

Pabrik raksasa yang berdiri di seberang jalan yang tadi siang menderu-deru sekarang berhenti diam, sepert seekor gajah beristirahat sesudah melakukan pekerjaannya. Tak ada pekerja yang lalu lintas, menarik dan mengangkat barang di sekitar pabrik itu.

 

Di keliling pabrik terbentang sawah luas ditabur warna hijau dan kuning oleh pokok padi yang muda dan sudah masak. Di sana-sini tampak kampung yang diselimuti pohon buahbuahan. Terbelintang sepanjang cakrawala barisan gunung kehijau- hijauan, di antaranya ada yang diselimuti oleh awan putih seolah-olah kemalu-maluan. Sang bulan mengintip dari celah daun kelapa yang berdiri tegak di suatu desa.

 

Suasana yang aman tenang ini terganggu oleh suara salah seorang di antara lima-seperjuangan tadi.

 

 

 

                                                             

                                                    I. Kritik atas Kritik

                              A. KAPITALISME MERAMPOK

 

 

SI PACUL : Kapan juga, Dam, kau mau membentangkan Rencana Ekonomi yang sudah kau janjikan itu?

 

SI TOKE : Politik perjuangan, seperti kita perundingkan tempo hari, rasanya sudah meresap betul dalam pikiranku. Tetapi rasanya belum cukup kalau kita belum mempunyai RENCANA EKONOMI. Karena tindakan ekonomilah kelak yang akan menentukan kemakmuran rakyat dan keamanan republik kita.

 

SI GODAM : Dari penjuru manapun juga kupandang, uraianku akan terlampau panjang. Jadi akan melewati maksudnya satu brosur. Menggampangkan mempopulerkan satu ilmu seperti Ekonomi rasanya di luar kesanggupanku. Kalau terlampau pendek tak akan cukup dimengerti atau salah dimengerti. Kalau terlampau panjang akan membosankan dan susah membulatkannya. Bukankah kita mau memberi sekadar pada Murba yang ingin tahu?

 

MR. APAL : Tak perlu engkau membentangkan menurut sejarah Ilmu Ekonomi. Bentangkan sajalah perkara yang terpenting dalam ilmu ekonomi dan garis besar dalam Rencana Ekonomi buat Indonesia.

 

DENMAS : Rencana Ekonomi yang sempurna saya pikir cuma bisa dijalankan dalam suasana aman-sentosa bagi Rakyat Indonesia. Seperti sudah pernah kau bilang, dalam suasana Merdeka 100%. Cukuplah sudah kalau kau bentangkan Rencana dalam keadaan sekarang dan bayangkan saja Rencana yang sempurna tadi.

 

SI PACUL : Pendeknya bentangkan saja RENCANA EKONOMI BERJUANG.

 

SI GODAM : Walaupun Rencana Ekonomi Berjuang yang terutama akan kubentangkan, tetapi tak boleh lupa memberi contoh tentang kapitalisme dan sedikit kritik tentang kapitalisme itu. Bukankah sistem kapitalisme yang menindas kita selama ini dan yang mendorong kita berjuang?

 

SI TOKE : Memang contoh yang tepat itu lekas dimengerti dan dipahamkan. Betul pula keburukan kapitalisme itu mesti dikupas habis-habis.

 

SI GODAM : Kuambil contoh tambang arang di Bayah Banten Selatan, di masa Jepang dan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Di sini kita berjumpa kapitalisme yang benarbenar berdasarkan perampokan telanjang bulat. Marilah kita sebutkan lebih dahulu semua syarat produksi. Terutama ialah:

 

l. bumi dan iklimnya; ada atau tidaknya sungai danau atau laut buat lalu lintas,

2. pabrik, bengkel, kereta, kapal, gedung dll,

3. tenaga yang tukang atau tidak, kuat dan lemah, lakilaki dan perempuan.

 

SI TOKE : Jadi dalam garis besarnya: l) alam, 2) tenaga, 3) perkakas atau mesin.

 

SI GODAM : Benar, marilah kita periksa bagaimana berjalannya produksi itu sesudah tiga syarat itu ada. Si penghasil sesudah mengadakan hasil pertama menghitung harga hasil yang didapatnya, yakni hasil bulat. Kemudian dia hitung ongkos yang keluar. Harga hasil bulat dikurangi ongkos itulah untungnya. Seperti seorang berdagang, dia juga hitung kelebihan jualan dari pokok.

 

SI TOKE : Cobalah kita hitung dahulu harga hasil sehari.

 

SI GODAM : Sehari bisa dihasilkan pukul rata sedikitnya (menurut taksiran kasar) 100 ton arang. Harganya ditaksir murah sekali, ialah f 100,- satu ton (Nilai rupiah di masa itu lebih kurang cuma 1/10 harga rupiah sebelum Jepang). Jadi harga 100 ton arang itu ialah 100 x f 100,- = f 10.000,-

 

SI TOKE : Ongkos keluar berapa?

Sewa tanah = f 0.00,- (Tanah-logam di Bayah umumnya tanah gedoran).

Kelunturan mesin = f 0.00,- (Semua mesin ialah mesin gedoran).

Bahan dipakai = f 0.00,- (Bahan di Bayah sebenamya tak ada. Kain mempunyai bahan berupa benang. Tetapi arang tak ada bahannya).

Gaji = f 0.000,-

 

Romusha 10.000 x f 0,40 = f 4.000,-

 

JUMLAH ONGKOS = f 4.000,-

Jadi untung bersih saban hari f 10.000 - f 4.000 = f 6.000,- Dipandang begitu untung Jepang satu hari adalah 1,5x dari pokok. Kalau dihitung menurut aturan biasa, yaitu untung satu tahun, maka untung kongsi Jepang di Bayah itu 365 x 150% = 54.750%. Ini bukan lagi untung, melainkan curian! Kongsi Jepang, BAJAH KOZAN SUMITOMO KABUSHIKI KAISHA itu bukan perusahaan lagi, melainkan perampokan.

 

SI GODAM : Tunggu dulu, Kek! Aku cuma memberi gambaran saja. Perhitunganmu masih belum beres. Gaji yang f 4.000,- sehari tadi ialah kertas koran yang digedor oleh Tentara Tenno Heika di KOLF, Jakarta. Jadi harganya uang Jepang itu ialah harga kertas itu saja. Belum f 40,- lagi kalau diukur dengan mas umpamanya. Cuma harga mencapkan saja yang mesti dihitung. Yang dinamai dekking (penutup kertas) itu, seperti bank biasa memang tak ada. Tetapi ongkos pencapnya pun dibayar dengan kertas pula. Beras yang dijualkan kepada romusha itupun beras gedoran.

 

SI TOKE : Kalau semuanya itu digedor, bagaimana menghitungnya? Tenaga sendiripun tenaga gedoran.

 

SI GODAM : Ringkasnya yang 100 ton arang itu diperoleh dengan makian “bagero” saja. Tanah digedor, mesin digedor, dan tenaga romusha pun digedor.

 

SI PACUL : Benar katamu, kapitalisme yang dijalankan oleh Tentara Jepang dalam 3 tahun di Indonesia ialah Kapitalisme MERAMPOK melulu! Perhitungan untung 54.750% itu masih rendah sekali! Tak ada ukuran yang sebenarnya boleh dipakai, kalau semua syarat menghasilkan itu barang rampasan. Kalau pokok f 0.00 dan jumlahnya sehari f 10.000,-, dalam ilmu hitung persenannya boleh dikatakan tak berhingga. Boleh 1.000.000% atau lebih karena jualan mesti dibandingkan dengan pokok Jepang yang f 0.00 dan tenaganya si kapitalis Jepang yang keluar cuma tenaga menyemburkan "bagero" saja.

 

SI TOKE : Sering juga dia bertenaga banyak!

 

SI PACUL : Kapan umpamanya?

 

SI TOKE : Umpamanya kalau dia sudah main tampar, atau asyik menyiksa seperti kucing menyiksa tikus. Si Kempetai sibuk mencari api pembakar mangsanya atau membanting dan menendang mangsanya sepuas-puasnya .

 

MR. APAL : Betul sekali anak Dewa Turunan Ameterasu Omikami itu di sini merusak dan memusnahkan tenaga Indonesia. Jepang itu mau lekas kaya dengan tiada mempedulikan sumber kekayaan di Indonesia. Kita ingat pada cerita di sekolah rendah, cerita ayam bertelur emas. Si empunya ayam yang tak mempunyai kesabaran dan bodoh itu potong ayamnya supaya sekali lalu dia dapat semua emasnya. Tentulah akhirnya dia tak mendapatkan apa-apa.

 

DENMAS : Dalam ekonomi yang betul-betul dijalankan buat kemakmuran Rakyat Murba, sudahlah tentu “tenaga” itu mesti dipelihara baik-baik. Sebisa mungkin ditambah nilainya dengan menambah kodrat dan sifat-baiknya. Dipelihara makan minumnya si pekerja, dipelihara rumah dan kesehatannya serta digembleng otak dan tenaganya. Dengan begitu tenaga itu naik banyak (quantiteit) dan sifatnya. Inilah yang memakmurkan Negara.

 

SI TOKE : Tentulah sumber hasil yang lain-lain mestinya dipelihara pula. Bagaimana si Jepang membikin kurus sawah dan merusak mesin kereta dan auto tak perlu pula kita bicarakan di sini. Umur mesin yang sepatutnya sisa 10 tahun di tangan si Jepang tak sampai 5 tahun.

 

SI PACUL : Semua mesin “bagus” yang bisa berumur panjang habis diangkut Jepang ke negerinya. Benarlah, dia menjalankan EKONOMI MERAMPOK.

 

                                       

                                             B. KRITIK MARX

                                      1. Timbulnya "Nilai-Lebih"

 

SI TOKE : Saya juga sudah pernah baca, bahwa “untung” itu ialah “pencurian”.

 

MR. APAL : Kalau saya tak salah lebih cari satu abad lampau Weitling, pujangga Jerman sudah menyatakan bahwa “untung” itu ialah bagian hasil yang dicuri si kapitalis dari buruhnya.

 

DENMAS : Saya pun punya teman seorang jurnalis Tionghoa yang bilang bahwa pujangga Tionghoa Guru Kung, muridnya Guru Ming, katakan bahwa “untung” itu memang “pencurian”.

 

MR. APAL : Yang mengupas kapitalisme dan “untung” itu sebagai pencurian ialah seorang pujangga, ahli filsafat Jerman bernama Karl Marx. Orang bilang Marx mempelajari Ekonomi itu dalam tempo lebih kurang 20 tahun, di negara yang semasa hidupnya paling terkemuka dalam perindustrian, yakni Inggris. Marxlah yang mengupas kapitalisme itu secara ilmu selama ia hidup sebagai pelarian politik di Inggris itu.

 

SI TOKE : Kami persilahkan Mr. Apal memberi penerangan tentang kupasan Karl Marx itu secara populer.

MR. APAL : Secara populer, terus terang kubilang aku kurang sanggup. Biarlah Godam saja menerangkan.

 

SI PACUL : Memang Godamlah yang sehari-harinya bergaul dengan Pekerja Murba dan guru kursus buat mereka. Lebih pada tempatnyalah kalau Godam yang memberikan kupasan itu.

 

SI GODAM : Tetapi saudara sekalian di sini bukan pekerja murba!

 

SI TOKE : Benar, tetapi kami juga sanggup, dan di masa pekerja murba masih serba kekurangan tenaga seperti sekarang, kami wajib memberi penerangan pula pada pekerja murba. Isi yang patut diterangkan dan caranya menerangkan, tentulah kau lebih paham, Dam!

 

SI GODAM : Karl Marx ialah bapak dari satu teori, satu paham yang masyhur di dunia ekonomi dengan nama “Nilai-Lebih”. Dalam bahasa Jermannya ialah Mehrwert; Inggrisnya Surplus-Value. Maafkan saja kalau saya terjemahkan dengan “Nilai-Lebih”, Marx mengupas timbul, ada, dan tumbangnya “Nilai-Lebih” tadi dalam tiga buku tebal yang masyhur di dunia bernama Das Kapital. Benar tidak semuanya Marx yang menulisnya, karena dia meninggal dunia sebelum Das Kapital itu rampung. Teman sepembangunnyalah, bernama Frederich Engels yang meneruskan pekerjaan raksasa itu. Tentulah Engels meneruskannya dalam semangat teman sepembangunnya itu pula.

 

SI PACUL : Jadi kepada dua Bapak Proletar inilah sebenarnya dunia-proletar seharusnya berterima kasih. Marilah kita mengheningkan cipta buat arwah dua Maha Guru itu!

 

SI TOKE : Engkau masih ketinggalan semangatnya Pemuda Tenno pemuja arwah di Cureido Jakarta dan Kuil Ise di Tok dan Kuil Yasukuni Jinja tempat arwah serdadu Tenno Heika bersemayam, bersuka-ria!

 

SI GODAM : Memang Marx Engels tak meminta, malah tak mengizinkan kita sesama manusia memuja mereka. Mereka lebih berbesar hati kalau teori mereka diterjemahkan dengan sebaiknya, ialah menurut tempat dan menurut tempo. Mereka menghendaki supaya teori mereka menjadi pahamnya Pekerja Murba di seluruh dunia !

 

SI PACUL : Sesungguhnyalah rasa menghormati dan cinta itu ada pada saya. Saya pikir juga ada pada kebanyakan orang. Tetapi kalau tak baik caranya menghormat seperti yang saya majukan di atas bagaimana; kita menunjukkan rasa hormat, penghargaan dan cinta kita kepada pemimpin proletar yang mempergunakan semua tempo, tenaga, dan jiwanya buat kelas proletar itu, puluhan tahun lamanya?

 

SI GODAM : Ada jalan, Cul! Pertama sesudah kelak teori Marx diuji dan dipahamkan, laksanakanlah paham itu serajin-rajinnya dan sejujur-jujurnya terutama di antara kelasmu sendiri, kelas proletar tanah. Kedua, buat menerangkan “Nilai- Lebih” tadi akan kuambil contoh yang diberikan oleh Marx sendiri dalam bukunya Das Kapital tadi. Contoh itu masih bisa dimengerti dan dipakai. Dengan begitu kita panggil kembali Karl Marx di depan pikiran kita!

 

SI PACUL : Ya, benar, itulah cara yang sebaik-baiknya buat menghormati guru itu. Mulailah, Dam! Terangkan dari mana asalnya “Nilai-Lebih” yang oleh Weitling dan Guru Kung tadi dinamai pencurian.

 

MR. APAL : Sekarang juga sering dinamai “tenaga yang tidak dibayar”. Inggrisnya, unpaid labour.

 

SI GODAM : Sekarang marilah kita masuki satu pabrik pemintal benang. Di depan si pemintal ada mesin. Di kanannya ada kapas sebagai bahan. Di kirinya ada benang sebagai hasil tenaganya dan kekuatan mesin. Kita timbang benang hasilnya tadi, adalah 10 kg, ialah hasil sehari bekerja umpamanya 6 jam.

 

SI TOKE : Berapakah harga 10 kg benang itu?

 

SI GODAM : Marilah kita hitung dengan harga yang diberikan oleh Marx. Sekarang, karena harga uang Indonesia tak keruan turun naiknya ini, harga di masa Marx baik terus kita pakai saja. Tetapi uang Inggris kita tukar dengan uang yang kita kenal saja, dengan tak begitu mempedulikan harga tukarannya itu. Maksud kita cuma buat memberi contoh supaya paham, “bagaimana timbulnya Nilai-Lebih” tadi bisa kita mengerti.

 

SI TOKE : Silahkan!

 

SI GODAM :

 

Harga 10 kg kapas sebagai bahan benang tadi ialah 10 x 25 sen

250 sen

Harga kelunturan mesin dalam 6 jam kerjanya

50 sen

Harga tenaga kerja dalam 6 jam kerja itu (upah sehari)

 75 sen

 

JUMLAH

 

375 sen

Jadi pokok 1 kg benang =

37½ sen

 

SI TOKE : Kalau dia jual umpamanya 75 sen 1 kg benang, jadi untungnya 100%.

 

SI GODAM : Tunggu dulu, Kek! Jangan terlalu cepat. Kita mesti anggap kaum kapitalis seluruhnya. Bukan kapitalis benang ini saja. Kita mesti menganggap kapitalis kain yang membeli benang umpamanya, seperti kaumnya kapitalis benang tadi juga, bahkan seperti dirinya sendiri. Dia sendiri biasa jadi kapitalis kain yang memakai benang sebagai bahan. Kalau dia ambil untung lebih dari dirinya sendiri itu, pada satu pihak, maka ini berarti ia merugikan dirinya sendiri pada lain pihak. Ini mesti dimengerti, Kek!

 

SI TOKE : Aku belum mengerti, Dam!

 

SI GODAM : Umpamanya si Kapitalis Benang kita tadi mempunyai dua kas. Kas yang kesatu berisi 37½ sen saja. Kas kedua 75 sen. Jumlah uangnya 112½ sen. Sekarang kas kesatu bukan berisi uang 37½ sen lagi, melainkan diisi dengan benang senilai 37½ sen. Yang 37½ sen tadi menjelma menjadi benang 1 kg. Jumlah nilainya kedua kas tadi bukanlah tetap 112½ sen? Seandainya benang 1 kg dari kas kesatu tadi dia tukarkan dengan kas kedua ialah 75 sen tadi. Jadi sekarang benang senilai 37½ sen bertukar tempat. Benang itu sekarang berada di kas kedua yang dahulu berisi uang 75 sen. Dan uang 75 sen sekarang pindah ke kas kesatu. Jumlah nilainya benang dan uang bukanlah tetap 112½ sen?

 

SI TOKE : Memang jumlah nilainya tetap 112 sen. Cuma tempatnya benang 1 kg dan uang 75 sen yang bertukar.

 

SI GODAM : Andaikan sekarang kas kedua berisi 75 sen bukan kepunyaan satu orang. Dia kepunyaan kapitalis lain, tetapi kapitalis juga. Jadi jumlah nilai pada dua orang kapitalis itu bukanlah tetap 112½ sen juga? Jadi kalau nilai 37½ sen itu dilipat dua bukankah ini berarti dia merugikan diri sendiri atau kelasnya sendiri? Di sinilah terselipnya peraturan (kesolideran) para kapitalis sebagai kelas. Merugikan seorang kapitalis lain berarti merugikan dirinya sendiri sebagai seseorang dari kelas kapitalis pula.

 

SI TOKE : Terlampau panjang aku mengambil tempo. Tetapi hal ini mesti terang betul buat kami. Sekarang barulah terang betul buat saya, bahwa dengan jalan menukar kapas memakai tenaga dan mesin begitu saja tak menimbulkan “untung”. Jadi dari mana mestinya timbul untung itu?

 

SI GODAM : Sekarang begini Kek! Si Buruh yang karena tak berpabrik, bermesin, atau berpacul itu, pendeknya Si Proletar, Si Tak Berpunya itu bukankah terpaksa menyerahkan, mempersekotkan, tenaganya kepada si kapitalis yang punya mesin?

 

SI TOKE : Benar, karena dia tak punya perkakas lagi seperti di zaman lampau. Dia sudah di-“merdeka”-kan oleh Pemberontakan Borjuis dari perkakasnya. Yang ada padanya sekarang hanyalah “tenaganya” saja yang dia peroleh dari Alam dari ibu-bapaknya.

 

SI GODAM : Benar, dengan harga 75 sen inilah yang dinamai upah Kek! Sekarang dia akan dibeli buat kerja sehari ialah 24 jam. Tadi kita andaikan dia bekerja cuma 6 jam saja sehari. 18 jam dia bebas! Sekarang si kapitalis merasa keberatan melihat dia bebas selama itu. Si kapitalis kerjakan si buruh, yang sudah mempersekotkan tenaganya, mengkontrakkan tenaganya itu, bukan 6 jam, melainkan umpamanya 12 jam! Apakah hasilnya?

 

SI TOKE : Ingin juga aku mau tahu, hasil 12 jam kerja itu dengan bayaran 75 sen sehari, karena dia dibayar buat satu hari.

 

SI GODAM : Perhatikan sulapan kapitalis, Kek! Tenaga itu sekarang bukan seperti mesin lagi melainkan menjelma menjadi barang yang bisa menyulapkan hasil yang dikehendaki si kapitalis.

 

SI PACUL : Sekarang engkau Dam, yang berlaku seperti tukang sulap yang membikin kami bingung! Cobalah beri perhitungan bagaimana si kapitalis menimbulkan Nilai-Lebih tadi!

 

SI GODAM : Bukankah tadi kita andaikan si pemintal benang bekerja 12 jam?

 

SI TOKE : Benar!

 

SI GODAM : Dalam 6 jam tadi dia pintal 10 kg artinya itu kapas dia sulap menjadi benang! Inilah keajaiban pertama dari tenaga manusia. Dia bisa tukar bentuknya barang. Bentuk kapas bertukar menjadi benang. Dalam 12 jam berapa kilogramkah benang yang bisa dipintal?

 

SI TOKE : Tentulah 2 x 10 kg = 20 kg.

 

SI GODAM : Berapakah harganya 20 kg benang, penjelmaan 20 kg kapas tadi?

 

SI TOKE : Sekarang aku sendiri bisa hitung, 20 kg harganya 2 x 375 sen tadi, ialah 750 sen.

 

SI GODAM : Tetapi berapa “pokok” si Kapitalis?

 

SI PACUL : Aku saja, Dam! Aku sudah mengerti.

                   Harga 20 kg kapas 20 x 25 sen                              500 sen

                      Harga kelunturan mesin 2 x 50 sen                        100 sen

                   Harga tenaga tetap                                                   15 sen

                     JUMLAH                                                                                675 sen

 

 

Jadi “untung” 750 sen - 675 sen = 75 sen. Dan “untung” ini terang didapatnya dari tenaga. Inilah yang tiada dibayar, inilah yang secara ilmu oleh Marx dinamai “Nilai-Lebih”.

 

SI GODAM : Inilah sulapan kedua yakni sulapan yang menimbulkan Nilai-Lebih dengan jalan memakai tenaga buruh, lebih dari harga tenaga yang dipersekotkannya oleh Buruh. Dari “tenaga”-lah timbulnya Nilai-Lebih itu. Hitung sajalah persen untungnya, kalau 12 jam kerja itu diperpanjang sampai 15 jam, sampai 16 jam, seperti sungguh terjadi di Inggris semasa Marx!

 

SI TOKE : Bagaimana mesin? Bukankah mesin mengambil bagian pula dalam Nilai-Lebih tadi. Apakah artinya kelunturan mesin yang masuk perhitungan di atas?

 

SI GODAM : Mesin itu asalnya bermula dari “tenaga” juga bukan? Tenaga yang menukar besi jadi baja dan baja menjadi mesin. pikiran cerdas, pikiran si penemu (inventor), yang mesti dianggap sebagai tenaga istimewa, seperti kata Marx tenaga berlipat, sudah masuk pula ke dalam mesin tadi. Bagaimana juga mesin itu bukannya barang gaib.

 

SI TOKE : Kelunturan mesin itu apa pula?

 

SI GODAM : Seandainya mesin itu bisa dipakai 10 tahun. Pokoknya mesin itu umpamanya f 1.000,00. Jadi umurnya sang mesin itu ialah 10 tahun. Jadi tiap-tiap tahun dipakai umurnya berkurang satu tahun, dan harganya berkurang f 1000,00 : 10 = f 100,00. Yang f 100,00 itulah yang saya namakan kelunturan. Yang f 100,00 itulah yang dihitung oleh kapitalis sebagai ongkos. Di sini hal itu kupopulerkan saja. Biarpun mesin itu bisa hidup terus 10 tahun, tetapi kalau sesudah 5 tahun umpamanya didapati mesin yang lebih kuat, maka mesin yang tadi biasanya dilemparkan saja. Tak dipakai 5 tahun lagi! Tetapi hal ini di sini agak sedikit menyimpang. Yang penting buat diketahui ialah: si kapitalis yang mempunyai mesin dan uang pergi ke pasar tenaga. Di sini dia berjumpakan tenaga yang tak bisa dipakai oleh si empunya, karena tak ada kapital. Tenaga itu amat murah, karena persaingan satu penjual dengan yang lain. Karena yang empunya tenaga mesti makan, membayar sewa rumah buat diri dan keluarganya, tenaga murah itu dibeli murah. Ajaibnya tenaga itu bisa menukar bentuk barang dari kapas ke benang dan dari benang ke kain. Tenaga itu boleh dipakai lebih lama dari nilai upahnya, seandainya upahnya bisa dibayar dengan 6 jam pekerjaannya. Tetapi karena dia berkontrak buat sehari, maka dia bisa dipekerjakan lebih dari 6 jam itu.KERJA LEBIH itulah yang menimbulkan Nilai-Lebih, ialah tenaga yang tak dibayar.

 

SI PACUL : Kalau begitu masyarakat kita ini berdasarkan kedustaan belaka. Kata si kapitalis, dialah yang memberi kehidupan pada si buruh. Sebenarnya bukankah si buruh yang senantiasa menambah kekayaan si kapitalis? Bukankah pula si buruh yang mempersekoti si kapitalis? Bukan sebaliknya si kapitalis yang mempersekoti si buruh!!

 

SI GODAM : Memang begitu Cul! Si buruh baru menerima upahnya sesudah membanting tulang dan mengeluarkan peluh keringat sekurangnya seminggu. Baru biasanya dia menerima upah. Jadi tenaganyalah yang keluar dahulu. Di belakang baru mendapat upahnya.

 

SI TOKE : Kalau begitu makin lama si buruh dipekerjakan makin besar pula “Nilai-Lebih” si kapitalis. Bukankah tak lebih untung buat si kapitalis, kalau dipekerjakan 24 jam sehari.

 

SI GODAM : Ada batasnya Kek! Nantilah kuterangkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

bottom of page